Transformasi Islam Untuk Pembebasan

Islam tumbuh dalam rentang waktu dua puluh tiga tahun. Hal ini menunjukan bahwa Islam mengalami transformasi dalam pembentukan dan perkembangannya. Kita dapat menyaksikan bagaimana Islam yang awalnya hanya sebagai sebuah gerakan keagamaan kemudian menjelma menjadi sebuah gerakan sosial politik pada periode berikutnya, serta dari agama perkotaan (periode Mekkah dan Madinah) menjadi agama yang menyebar luas pada masyarakat desa.

Transformasi Islam tersebut terus berkembang seiring dengan perjalanan waktu. Hingga kini, transformasi Islam terus terjadi dalam berbagai bentuk. Wahabisme misalnya, gerakan ini mencoba melawan modernisme dengan melarikan diri kepada teks sebagai satu-satunya sumber legitimasi. Ajaran ini sangat tidak bersahabat dengan misitisme dan intelektualisme. Menurut mereka, umat Islam wajib kembali kepada pemahaman Islam yang sebenar-benarnya melalui interpretasi harfiah terhadap teks. Mereka menolak pengetahuan humanistik, apalagi menafsirkan teks dalam perspektif sejarah.

Transformasi Islam terus berkembang dengan munculnya gerakan salafisme. Gerakan yang dipelopori Muhammad Abduh, Al Afghani, dan Rasyid Ridho ini secara umum hampir mirip dengan Wahibisme. Hanya saja mereka lebih toleran terhadap perbedaan pendapat. Para penganut salafi mangidealkan zaman keemasan masa Rasulullah dan sahabat. Yang membedakannya dengan wahabi adalah, bahwa mereka didirikan oleh kaum nasionalis muslim yang menafsirkan kembali modernisme melalui teks-teks orisinil sehingga mereka tidak anti-Barat.

Transformasi Islam di Indonesia

Sebagaimana perkembangan Islam di Timur Tengah, Islam di Indonesia juga mengalami perubahan menuju format idealnya. Namun Islam di Indonesia sampai saat ini belum juga menemukan bentuk ideal yang mampu membawa bangsa ini menuju kesejahteraan. Bahkan yang terjadi adalah konflik yang berkepanjangan. Banyaknya variasi gerakan Islam membuat umat Islam di Indonesia kebingungan dan senantiasa dihantui rasa takut karena banyak konflik yang terjadi antara sesama muslim. Fenomena saling menyesatkan serta fatwa-fatwa yang memicu terjadinya konflik membuat wajah Islam menjadi semakin “mengerikan”.

Arah transformasi Islam menjadi semakin memprihatinkan dengan munculnya keinginan yang mengarah kepada formalisasi syari`at Islam. Keinginan ini muncul akibat kekecewaan terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat yang sangat menyedihkan. Barangkali inilah yang disebut Jurgen Habermas dengan krisis lagitimasi. Dimana terjadi ketimpangan antara kebutuhan akan motif-motif yang dikukuhkan oleh negara, sistem pendidikan, dan sistem dunia kerja di satu pihak, dan motivasi yang didukung oleh sistem sosial budaya di pihak lain telah melahirkan motivasi untuk menjadikan tuntutan norma-norma secara formal.

Selain itu, tuntutan yang besar terhadap formalisme agama merupakan akibat dari perasaan yang mendalam berupa kekalahan dan keterasingan dari cengkraman gurita kapitalisme. Hal ini membuat kebencian terhadap kapitalisme, yang diwakili oleh Barat, semakin besar. Akibatnya, sebagian umat Islam beranggapan bahwa apapun yang datang dari Barat adalah kafir dan satu-satunya jalan untuk melawan semua itu adalah penegakan syari`at Islam secara formal.

Kecenderungan formalistik ini membuat semangat pembebasan Islam menjadi redup. Hal inilah yang membuat gerakan Islam di Indonesia mengalami kemunduran. Islam tidak mampu menjadi rahmat bagi seluruh umat manusia, tapi hanya bagi mereka yang memiliki kesamaan pandangan saja. Kita kemudian lupa bahwa misi Islam adalah misi kemanusiaan yang membebaskan manusia dari kemiskinan, keterbelakangan, dan penindasan.

Fenomena ini kemudian membuat umat Islam semakin hari semakin jauh dari nilai-nilai luhur Islam itu sendiri. Sebagian kita menganggap orang lain sebagai musuh hanya karena perbedaan pandangan keagamaan. Bagaimana mungkin orang yang mengaku beragama berani melakukan pemboman di tempat keramaian dan melenyapkan ratusan nyawa yang belum tentu berdosa? Kenyataan ini diperparah dengan adanya kelompok yang merasa dirinya paling shaleh dan yang lain sesat, ada kelompok yang merasa paling rasional dan yang lain dianggap kolot, dan ada juga kelompok yang merasa berhak mewakili Tuhan sehingga memiliki wewenang untuk memvonis siapapun yang berbeda pandangan dengannya. Sebuah pandangan yang jauh dari nilai-nilai luhur keislman.

Misi Profetis Islam

Ketika melaksanakan haji wada`, Rasulullah menyampaikan sebuah pidato yang sangat penting. Beliau menyampaikan bahwa turunnya wahyu secara umum memiliki tiga tujuan: pertama, untuk menyatakan kebenaran. Kedua, untuk berperang melawan penindasan dan katiga, membangun ummat yang didasarkan kesetaraan, keadilan, dan kasih sayang. Senada dengan itu, dalam al Quran juga disebutkan tiga prinsip dasar Islam, yaitu; humanisasi (kemanusiaan), liberasi (pembebasan), dan transendensi (QS. Ali Imran 110). Tiga elemen dasar inilah yang harusnya menjadi semangat keberislaman kita.

Disinilah perlunya kita menyingkirkan sikap-sikap pragmatis dalam memahami teks sehingga pemahaman kita tidak hanya berkutat pada penafsiran teks. Pandangan yang tertutup dalam memahami teks hanya akan membuat Islam terkesan bengis dan sangar serta akan memperkuat stigma buruk terhadap Islam. Misi Islam sebagai agama pembebasan menjadi terkaburkan. Yang lahir justru penjajah-penjajah baru yang merasa berwenang menghakimi “kelompok lain”.

Islam harus benar-benar ditempatkan sebagai agama kasih sayang (rahmat) agar bisa manampakkan wajah yang sejuk dan damai. Keyakinan kita akan kekuasaan Allah harus diikuti dengan kesungguhan dalam menerjemahkan perintah Allah untuk mengasihi sesama manusia, bahkan mengasihi musuh sendiri sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah. Perbedaan yang terjadi adalah cara Allah untuk menguji kita terhadap pemberian-Nya. Bahkan dalam al Quran dikatakan “Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umay saja, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu. Maka berlomba-lombalah dalam berbuat kebajikan. Hanya Allah-lah tempat kembali kamu semua, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu (QS. Al Maidah 48).

Terakhir, mari kita mulai membangun kesadaran dengan spirit transformasi dari pemahaman yang literal menjadi pandangan yang terbuka, humanis, santun, dan tentu saja religius. Kemerosotan umat Islam hanya bisa diatasi jika masing-masing kelompok mampu bersikap ramah satu sama lain. Perdebatan tentang mana yang sesat dan mana yang benar paling benar hanya akan membuat kita letih sehingga persoalan umat yang lebih besar, yaitu penindasan, kemiskinan, dan keterbelakangan menjadi terabaikan. Agama harus dijadikan spirit bagi kita dalam memperjuangkan nilai-nilai kemnusiaan menuju Islam yang membebaskan.


Oleh Abrar Aziz

Ketua Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah

One thought on “Transformasi Islam Untuk Pembebasan

  1. Mas Aziz, tulisannya bagus. Islam itu agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Allah berfirman dalam hadis Qudsinya, kalaulah tidak ada kamu wahai Muhammad, maka tidak akan aku ciptakan makhluk, termasuk manusia. Itu berarti bahwa posisi Nabi Muhammad sangat istimewa di sisi Allah. Nah, sebelum meninggal, Rasulullah pada Hajji wada’ pernah menyampaikan sebuah khutbah yang amat panjang, yaitu yang dinamakan khutbah Ghadir Khum–Belakangan oleh kalangan orientalis direduksi, tapi anehnya oleh kebanyakan intelektual Islam dipercaya sebagai kebenaran, menjadi amat pendek yaitu berbunyi kurang lebih: tidak ada perbedaan antara orang arab degnan non arab, orang kulit putih dan hitam, yang membedakannya adalah ketaqwaan. Diantara khutbah Ghadir Khum adalah Nabi menyebutkan kurang lebih begini: saya rela telah berjuang memberikan yang terbaik bagi kalian untuk mengenal Islam. Saya tidak meminta apa-apa kecuali berbuat baiklah kalian kepada keluargaku. dan pernyataan itu diulang hingga 7 kali. Kita tahu betul sejarah wahhabi yang demikian memusuhi ahlul bait (keluarga rasul). Ingat pada peristiwa pembentukan negara Saudi Arabia oleh Assaud? Di atas lahan yang kaya minyak yang didiami oleh ribuan ahlul bait, kaum wahhabi memenggal kepala kaum lelaki dan merobek perut-perut perempuan yang sedang hamil. Apakah ini yang Anda sebut sebagai gerakan Islam (yang ingin kembali kepada al-QUran dan Sunnah)? Jangan menjawab bahwa ahlul bait itu syiah. kalaupun Syiah, tidak semua syiah itu ghulath, atau syiah yang memandang bahwa Ali bin Abi Thalib adalah Tuhan. Gerakan wahhabi itu gerakan yang anti modernisme, termasuk lampu, listrik, tv dst. Tapi apa lacur, bahkan gerakan inilah yang menjadi antek Amerika (dahulu sebelum memberontak karena alasan uang juga) dan menjadi terroris di penjuru dunia (coba lihat buku sejarah kota makkah). Islam yang benar adalah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Dan itu bisa dipelajari dari tafsir-tafsir yang penafsirannya didapat dari hadis-hadis Nabi Muhammad saw (attafsir bilma’tsur). Anda bisa dapat di mana hadis semacam itu? dari wahhabi? atau dari gerakan Islam (yang menurut saya ngawur ini)? Anda cuma bisa dapatkan semua itu dari karya-karya Ali bin Abi Thalib dan pengikutnya, yaitu syiah. Anda lihat gerakan Islam di dunia sekarang ini kecenderungannya ke arah UANG, UANG, UANG, KEKUASAAN, dan jauh dari KEILMUAN. JIka Anda ingin mengetahui gerakan Islam sejati, lihatlah Iran, lihatlah gerakan Hisbullah yang dipimpin oleh Hasan Nasrullah. Mereka punya trilyunan uang dan memiliki dan yang dihibahkan oleh Muslim ahlul bait seluruh dunia. Tapi, Anda bisa lihat kehidupan Hasan Nasrullah dan Ahmadinnejad. MEreka tak punya uang sepeser pun untuk menabung kecuali hanya untuk makan 2x sehari. pakaian hanya punya 3 pasang saja. Padahal pada saat yang sama, Hasan Nasrullah memegang uang trilyunan dollar, jumlah uang yang tidak dimiliki oleh negara mana pun di dunia ini. Inilah Islam yang dipraktekkan, bukan diOMONGKAN saja. Islam yang diajarkan oleh Nabi. Anda lihat wahhabi dengan PKSnya, Muhammadiyah dengan PAN-nya, NU dengan PKB-nya, dan seterusnya dan seterusnya, yang mereka KEJAR HANYA UANG, KEKUASAAN. mereka RELA MENGHAMBA demi uang dan kekuasaan. INI SANGAT TIDAK ISLAMI. tks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s